Saturday, 1 August 2015

Inversi

Ternyata hal-hal yang kita anggap lazim dan biasa bisa seketika berubah menjadi sesuatu yang baru dan menarik dalam hitungan detik. Kuncinya, cari sudut pandang lain yang kadang bisa benar-benar bertentangan dengan kebiasaan. 
 
Hal ini baru saja kualami beberapa hari lalu, di halaman belakang rumah. Ketika itu perutku tengah penuh, kembung. Pencernaan yang kurang lancar kerap mengharuskanku melakukan beragam ritual pengusir konstipasi. Sebelum memutuskan untuk kembali menegak laksatif, kucobalah sebuah sequence yoga via youtube yang katanya bisa mengurangi begah akibat gas. Sejumlah pose nya yang 'jungkar-jungkir' pada akhirnya menghadapkanku pada pemandangan yang menyenangkan : 
dahan dan ranting pohon dengan kuning bunga petai yang bergelantungan, langit biru bersih, dan wind-chimes yang saling beradu dengan angin menghasilkan suara 'kling-kling-kling'. 

Benda-benda tersebut memang berada pada tempatnya masing-masing seperti hari-hari biasanya.Tidak ada yang berubah. Namun, kedirianku yang tengah menengadah dengan posisi kepala di bawah menjadikan sudut pandangku terhadap kebun berubah 180 derajat (literally). Dan, suasana kebun pada menit itu terasa baru dan menyegarkan. Hangat sinar matahari pukul setengah delapan pagi serasa memijat wajah dan badanku. Ah. Seketika fokusku terhadap napas dan perut buyar, berjalin menjadi lamunan--yang menenangkan. 



Wednesday, 20 May 2015

Bila Ajal Menjemputmu di Toserba, Apa yang Kau Bawa Serta?



Beberapa minggu belakangan, layar kaca dan berbagai portal berita tengah diselimuti berita duka. Sejumlah seniman hingga petinggi negara berpulang menghadap Sang Pencipta.  Kebetulan, salah satu orang terdekatku juga belum lama meninggal dunia. Sebuah lagu yang kerap kuputar di sela pekerjaan atau di tengah perjalanan akhir-akhir ini pun mencuri perhatianku lebih dari biasanya ; ada sepenggal liriknya yang tak bisa lepas terngiang di kepala :

"Cukuplah sebuah nasihat untuk yang bernyawa itu kematian. Cukuplah tipu dan muslihat nikmat waktu luang, kesehatan…" (*)

Hari demi hari, kematian seolah ingin menyapaku--atau kita--yang telah lama abai terhadap kehadirannya. Seolah-olah ia bukan sesuatu yang niscaya dan tak akan hadir dalam waktu dekat, setidaknya bukan untuk menghampiri kita. Padahal, ia senantiasa menunggu di persimpangan jalan, mengintip jam tangannya seraya berkata :

"Jam sekian, si (...isi nama...) gua jemput dah".

Lantas, apa yang tengah kita lakukan kala itu?

                                                                          ...

Aku menganalogikan sosok malaikat pencabut nyawa sebagai seorang teman backpacking yang tengah menunggu kita belanja perbekalan di toserba sambil merokok di parkiran.

"Bentar yakk," ujar kita.
"Iye buru. Beli yang perlu-perlu aja ", balasnya.

Sesampainya di dalam--karena itu toserba terakhir yang akan dijumpai sebelum perjalanan dimulai--kalaplah kita :

“…widihh, enak nih aromanis buat di jalan! Eh, habis itu kan ntar haus…hm…beli minumnya ah sekalian. Minumnya kopi dingin kali yaa,  biar di jalan nggak ngantuk?? Lah, tapi ntar kerongkongan makin seret…yaudah ni teh bot*l  gua beli dah sekalian.
Eh eh bentarrr,  gua ntar bakal naik elf kan ya? Ah, mendingan sekalian beli masker sama parfum dah, biar nggak bau keringetan. Abis itu dilap ama tisu basah terus sisiran. Cling lagi deh. Beli juga ah tisu, parfum ama sisirnya! Mmm…ini sendal jepit perlu nggak ya…siapa tau ni sendal cebanan gua putus di jalan. Yaudah deh. ambil semua. 
Yah! Duit gua gak cukuppp. Eh tuh ada dompet nongol! Gua comot ga bakal ketauan lah ya…hehehe. " 

Sadar akan waktu yang terbatas, teman kita mengetuk pintu kaca toserba. Kita yang tengah sibuk mengutil dompet orang untuk membayar seluruh belanjaan pun abai terhadap pertandanya.
Dan tak lama, ia telah berdiri di belakang, menepuk bahu kita: 

"Yuk cabut. Belanja apaan aja lu?"

Kaget dan tersentak, walhasil kita serta merta menjawab gelagapan, "hehe..ini..gua bawa bekel buat jaga-ja..."
"Gak perluuuu!! Banyak ama belanjaan lau! Orang kita cuma perlu air sama rotii," ujarnya marah. "Kan udah gua bilang, bawa bekel secukupnya, biar gak bikin berat di jalan! Yaudah buru bayar, abis itu cabut. Tuh elf udah nunggu di depan!”

Sembari bersungut-sunggut, kita pun bergegas  membayar seluruh belanjaan.
"Yailahhh pake duit colongan pula," ia geleng-geleng kepala. 

Kita berjalan tertatih dengan beban kantung-kantung plastik belanjaan yang ditenteng di kedua tangan. Sebagian barang tercecer di jalanan.

"Mana air putih sama roti?,” tanya sang teman.
"Astagfirullah aladziim! Lupaaaa!"
"Alahh.. udah nggak guna istighfar lu… ini elf udah jalan. Gak ada lagi toserba sepanjang desa nanti. Udah gua bilang, belanja secukupnya, beli seperlunya, ambil yang bener-bener diperluin. Sisanya cuma ngebuat lu berat dan terbebani sepanjang jalan. Belum lagi kalo ketemu orang yang duitnya lu copet, minta pertanggungjawaban. Idih, lu kasih dah tuh sisir ama tisu..." 

...

"To the well -organized mind, death is but the next big adventure." ujar JK Rowlling suatu ketika.

Begitulah bagiku kematian. Untuk yang sadar dirinya telah ditunggu teman dan dinanti elf untuk sebuah pengembaraan panjang, tentu ia tak menghabiskan waktunya berlama lama di toserba--yakni alam dunia--dengan barang tak jelas guna ;

Ambil yang perlu, secukupnya, sesuai ketetapan -Nya. Jangan terjebak bujuk rayu toserba dengan segala manis kembang gula. Sakit gigi kau dibuatnya. (Lagipula, kemana kau bisa cari klinik gigi di alam baka?)

Dan, tak perlu cemas gelagapan bila sang "teman" memanggilmu, menepuk bahu, dan mengajak pergi. Toh, kita hendak melanjutkan perjalanan  dari sebuah toserba sempit di simpang jalan menuju hamparan luas bukit hijau dan padang-ilalang yang menyimpan sejuta rahasia beserta kemungkinan.
Doakan saja, agar mereka yang tengah mengembara mendahului kita dari “toserba” menemukan jalan terang menuju haribaan-Nya...



...tanpa tersandung sisir dan tisu yang tercecer.


Semoga. 

*lirik lagu “Berlayar di Daratan”-Semakbelukar

** foto ilustrasi : freeimages.com 

Monday, 30 June 2014

Hutang Besar Dari Sebulan Mendengar


“Mengingkari” harapan adalah salah satu kesalahan yang paling takut saya lakukan terhadap orang lain. Membuat kecewa, memupuk rasa tak lagi percaya, apalagi bila sampai membuat luka yang akhirnya melahirkan bisik-bisik “Alah, dia mah nggak bisa diandalkan”. Perasaan ini cukup mengganggu, memang. Terlebih sebagai manusia, kesalahan sudah barang tentu menjadi nama tengah kita, tak peduli seberapa mahir kita bekerja. Namun, setiap orang memiliki suatu hal yang berpotensi mengundang rasa bersalah dalam diri mereka. Dan bagi saya, membuat kecewa adalah salah satunya.

Kadang perasaan serba-bersalah ini muncul bahkan sebelum saya mulai mengerjakan suatu apapun. Khawatir berlebihan, boleh dikata. Menurut buku yang pernah saya baca, perasaan ini bisa jadi disebabkan oleh pola asuh orangtua yang otoriter dan perfeksionis, menuntut segala sesuatunya berjalan dengan sempurna. Yah, apapun itu, yang jelas, saya semakin merasa bersalah dan serba-salah ketika hal yang dikhawatirkan benar-benar terjadi. Dilontarkan begitu saja dalam obrolan ringan di dalam mobil.

“KKN ayeuna mah, asa teu kadangu nanaon nya. Ha ha ha, sararepi wae.” (KKN sekarang tidak kedengaran apa-apa ya, sepi-sepi aja). Ibu yang menumpangi saya dan teman saya menuju Conggeang berkata demikian, entah menyindir atau memang tak disengaja. Saya mual seketika. Mual karena merasa telah mengecewakan orang dan karena aspal jalan yang  dilalui memang benar-benar rusak berlubang tidak keruan.

Sepanjang jalan kami berbincang. Saya, seorang teman saya, dan keluarga si-ibu-kecewa yang berjumlah lima orang. Sebisa mungkin saya menyisipkan pernyataan yang menjelaskan bahwa program KKNM Unpad kali ini tidak berorientasi pembangunan, hanya diminta untuk turut merasakan kehidupan desa dan bantu-bantu ala kadarnya. Alih-alih dimaklumi, ibu tersebut kembali mengungkapkan serangkaian keluhan serta harapan, harapan, dan harapannya. Saya merasa simpati dan terbebani sekaligus. Duh.

Rasa bersalah ini ternyata juga dialami oleh teman-teman KKN lainnya yang saat itu satu nasib dengan saya untuk berada satu bulan di Desa Cipelang, Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang. Terlebih karena sikap warga desa yang luarbiasa ramah dan murah hati. Rumah tinggal kami kerap disinggahi warga yang membawa serta nasi kuning, keripik, lauk nasi, bahkan televisi. “Kesannya kita numpang tinggal dan ngerepotin doang yah, di sini”, ujar salah satu dari kami suatu hari.



Sebenarnya saya setuju dengan kebijakan Unpad kali ini yang tidak meminta kami untuk muluk-muluk membangun perubahan di suatu tempat yang bahkan masih asing sama sekali bagi kami. Rasakan saja dulu, bagaimana warga desa biasa hidup sehari-hari tanpa disertai kemudahan yang ada di kota pada umumnya. Belajar merasai, belajar berempati.

Kebijakan ini, menurut saya pribadi, sudah sesuai dengan disiplin ilmu strata satu yang memang membekali murid didiknya menjadi akademisi. Mengkaji teori kemudian merumuskan solusi tanpa harus jadi yang turun langsung membenahi berbagai hal kesana-kemari. Intinya kami diminta untuk merumuskan permasalahan dan potensi desa, yang kemudian bisa disampaikan ke pihak-pihak terkait agar segera ditangani dan dicarikan solusi. Itu saja.

Namun, hidup bersama masyarakat desa yang cenderung pragmatis, tentu kami tidak bisa hanya duduk diam mengamati berbagai persoalan keseharian yang mereka hadapi. Tetap perlu ada bentuk “riil” hasil kerja kami yang dapat dinikmati—setidaknya dilihat—warga desa.  Untuk itulah, kami bertujuh belas merundingkan apa-apa saja yang akan dikerjakan sebulan ke depan. Mulai dari ikut berlatih memainkan gamelan, membantu pengerjaan RPJM desa, membuat plang peringatan, hingga membuat serangkaian lomba di PAUD dan SD setempat. Dari hal itu saja sebenarnya sangat banyak hal yang dapat saya jadikan pelajaran, baik ketika berinteraksi dengan warga desa maupun teman-teman satu kelompok.

Ada satu hal yang membuat “program empati” kami berjalan cukup sukses. Sinyal komunikasi selular yang benar-benar buruk alhasil menjauhkan kami dari koneksi internet sumber segala media sosial yang dipercaya “menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh”. Sebutlah facebook, twitter, path, instagram. Semua diganti menjadi obrolan santai di malam hari, keliling rumah warga di siang hari, berkumpul dan bermin dengan anak-anak, dan sebagainya. Tidak lagi asyik sendiri, komunikasi langsung terjadi setiap saat.

Hal ini juga mengajari saya untuk lebih banyak mendengar. Sangat banyak informasi dan hal baru yang dapat dipelajari—yang mungkin tak bisa didapat lewat internet—ketika menjalin komunikasi tatap muka. Saya jadi bisa lebih merasakan emosi lawan bicara karena saya benar-benar ada di sana bersama mereka, menatap raut mukanya, dan mendengar nada suaranya. Tidak semata-mata membaca tulisan singkat di layar sentuh. Bisa jadi ini merupakan alasan mengapa warga Desa Cipelang begitu ramah dan murah hati. Karena mereka selalu berinteraksi dengan saling mendengar dan merasakan, juga ada di sana ketika dibutuhkan.

Sepertinya mendengar memang modal terpenting untuk bisa memahami. Di hari-hari terkahir ketika suara-suara warga desa makin akrab di telinga, ketika itu pula saya semakin merasa bahwa “suara” mereka perlu diberi pelantang agar sampai pada mereka yang memiliki tanggung jawab. Harapan mereka secara tak disadari menjelma harapan saya pula.
***
“KKN ayeuna mah, asa teu kadangu nanaon nya. Ha ha ha, sararepi wae.”
Perkataan itu kini lebih membuat saya merasa berhutang daripada bersalah. Berhutang untuk lebih banyak mendengar dan menyampaikan suara tentang yang diderita, agar suatu saat, banjir, jalan rusak, sungai kotor, polindes tanpa bidan jaga, hanya dikenang sebagai cerita tanpa pernah dirasakan lagi kehadirannya.











Thursday, 24 October 2013

The Wolves (Act I And II)

Someday my pain, someday my pain
Will mark you
Harness your blame, harness your blame
And walk through

With the wild wolves around you
In the morning, I'll call you
Send it farther on

Solace my game, solace my game
It stars you
Swing wide your crane, swing wide your crane
And run me through

And the story's all over you
In the morning i'll call you
Can't you find a clue when your eyes are all painted Sinatra blue

What might have been lost -
Don't bother me

-Justin Vernon


Friday, 26 July 2013

Mari Berburu Harta Karun di "Harta Kar(uh)un" !

Membeli barang lama kadang lebih seru dan  berharga dibanding belanja barang keluaran baru, karena barang-barang lama dijual satu paket dengan seperangkat cerita dan kenangan sang pemilik terdahulu. Siapa tahu sepatu yang kamu beli punya jalan hidup yang lebih berliku dan mengharu-biru dibanding kisah cintamu. Ah, mereka siap kau buru!



Sila mampir ke Ir.H.Juanda No 276 Bandung (sebrang Salon Seruni) jam 11 siang hingga 7 malam. Bawa serta kakak adik pacar tetangga saudara dan orangtuamu, ada takjil gratis menunggu! :D 


Friday, 19 July 2013

Kisah Sepanjang Jalan

Coba sejenak kamu bayangkan.

Ketika sedang berada dalam perjalanan ke tempat kerja atau ke manapun menggunakan kendaraan umum, kamu tiba-tiba saja disesatkan oleh sang supir untuk tidak bisa sampai ke tujuan. Tiba-tiba angkot yang kamu tumpangi berbelok arah ke jalan kecil, teruuus...hingga kamu tidak bisa ingat lagi dimana arah asalmu. Beberapa penumpang di sekelilingmu mulai terlihat gusar, cemas melirik jam. Namun anehnya, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari masing-masing kalian untuk sekedar bertanya,

"ini angkot mau kemana?"

Kamu duduk di bangku paling sudut dengan punggung yang merosot. Mengamati setiap gerak-gerik penumpang lain, yang, entah mengapa, mulai terlihat menikmati perjalanan. Meskipun tidak ada yang tahu ke mana sebenarnya kendaraan itu mengarah. Dan kelihatannya, tak ada yang berusaha untuk mengetahuinya pun. 

Angkotmu terus melesat di jalanan sepi. Pemandangan di kiri-kananmu makin terlihat asing. Pohon-pohon terlihat saling bersandar, rantingnya yang bercabang melambai-lambai.

"Hai! Selamat jalan!" pekik sebatang pohon yang terlihat paling muda di antara kawanannya.

Suhu udara tiba-tiba menjadi hangat. Cahaya matahari muncul dari sela rimbun daun yang bergoyang saling bergesekan. Kamu memicingkan mata terhadap silau sinarnya yang keemasan. Gerombolan capung menyanyi-nyanyi dan terbang ke sana-kemari. Beberapa di antara mereka bertubrukan dengan kupu-kupu yang baru saja terbangun dari tidurnya yang menggantung di dedaunan. Mereka bertengkar, mengeluarkan suara "ngimimyinimnyi! krrtt..krrrtt!" yang bising.

 Aneh sekali, ujarmu dalam hati.

Sang supir terus mengemudi dengan gayanya yang khas dan santai; siku kanan bertumpu pada jendela yang dibuka penuh. Seolah ia dan para penumpang kebingungannya tengah berada di jalan raya seperti biasa, tidak terjadi apa-apa. Matanya, seperti lazimnya para supir angkot, terlihat besar dan menelaah. Mencari-cari kemungkinan untuk berhenti dan mengangkut penumpang, yang akan menjelma rupiah. 

Kemudian, tanpa diduga, jendela di samping kirimu bergetar. Kamu yang tengah bersandar lantas terhentak. Begitupun jendela di sebelah kananmu, yang membangunkan seorang siswi berseragam putih abu dari kantuknya. Getaran itu terasa cukup lama, namun, kamu dan para penumpang lain tidak dapat melihat apapun di sekitar. Gelap, cahaya yang sedari tadi berhamburan tiba-tiba raib, seperti dihisap oleh kekuatan besar, entah apa. Selama beberapa detik, kamu kesulitan bernapas. Udara terasa berat dan pengap, tenggorokanmu tercekat. Lalu, tak lama kemudian...

Kamu berhadap-hadapan dengan pemandangan yang tak pernah terbayangakan akan kamu temui di tengah-tengah jadwal kuliah, di tengah padat rutinitas yang selalu memaksamu untuk mengalah. Hamparan pasir putih di sekelilingmu terlihat begitu lembut seperti serbuk susu, gradasi air laut dari tosca ke biru seketika meneduhkan matamu. Angkotmu berlayar di airnya yang tenang dan jernih, kadang terlihat berkilauan memantulkan sinar matahari. Garis horizon antara langit dan laut lebur membaur, dunia di hadapanmu nampak begitu luas dan tentramnya.

Penumpang lain mengerjap-kerjapkan matanya tidak percaya. Sebagian tersenyum dan sebagian lain tertawa.

"Ah, Pak supir bisa aja!" ujar salah satu dari mereka.

Pelayaranmu tidak memakan waktu yang lama. Sepuluh menit kemudian, pemandangan berganti menjadi hijau dan berkabut. Suhu sekitarmu berangsur-angsur menyejuk. Dingin, malah. Hei tunggu, ini bukan kabut. Ini awan! Gumpalan kapas putih bersih ini nampak jauh lebih menggiurkan dari kasur tidurmu. Kamu menyadari kedirianmu kini sepertinya lebih tinggi dari 3000 meter di atas permukaan laut. Setelah terbang menanjak, angkotmu mendarat di sebuah lapang berbatu, di titik paling tinggi. Beberapa penumpang mulai mengeluarkan ponselnya dan mengabadikan pemandangan sekeliling. Si anak SMA meminta tolong pria paruh baya di sebelahnya untuk memotret dirinya berlatar awan-awan, dengan kedua tangan membentuk huruf V.

Dan sekarang dibawa summit attack naik angkot? Wow.

Entahlah. Sepertinya sang supir dengan segera dapat memahami apa-apa yang tengah berada di dalam benak penumpangnya. Sepertinya kekuatan gelombang pikiran itu ada benarnya juga. Mungkin saja masing-masing dari kami sama-sama sedang jengah dengan segala tetek-bengek kewajiban. Mungkin juga sang supir merasakan hal yang serupa. Kami sama-sama ingin kabur, untuk berlibur. Atau mungkin, mata kami sama-sama sudah terlalu sempit sudutnya sehingga bola mata tidak bisa berputar untuk memandang keadaan sekeliling yang menarik untuk disimak, karena terlalu lama menunduk terpaku pada layar kotak yang berpendaran cahaya itu. 

Agaknya kita tidak akan pernah mendapatkan pengalaman seperti itu di dunia nyata. Namun nyatanya, hal serupa masih dapat kita rasakan di sela-sela perjalanan. Kemanapun, kapanpun. Bahkan ke tempat yang paling rutin dikunjungi sekalipun. Ke kampus, ke kantor, ke bank...ah, tujuan bukan masalah. Kadangkala, perjalananmu lebih penting dari tempat yang akan dituju. It's not about the place, it's about the journey...

Untuk mengalaminya, pertama-tama kamu dapat mengganti kacamata-mu--atau bahkan bola matamu, dengan sesuatu yang baru, yang bisa membuat pengelihatanmu selalu menjelajah penasaran, sembari menelaah apa-apa yang terhampar di jalanan. Mata barumu akan mengajakmu melihat dan menyimak setiap hal kecil yang mungkin luput dari pandangan sehari-hari.

Kamu mungkin tidak menyadari, di sisi kiri jalan, ada sebuah gubuk panggung di tengah sawah yang tiap siang dihuni sejumlah orang makan-makan sambil berbincang di serambi sementara angin menidur-lelapkan anak laki-laki yang paling kecil, bila selama ini matamu tunduk lurus menghadap layar kotak yang kelap-kelip dalam genggaman selama perjalanan. Sekelilingmu tumbuh besar bersamamu. Pun anak laki-laki yang tengah tidur lelap itu. Di tahun pertama kuliahmu, ia bisa jadi merupakan seorang bocah yang kutu rambutnya masih suka ditindas oleh jari-jemari sang ibu, dan di tahun ketiga, ia sudah berseragam putih-merah; melintasi pematang untuk pergi bersekolah. Ada sebuah cerita baru di tengah rutinitasmu.

Aku sering memilih untuk menenggelamkan diri dengan pikiran melayang-layang seperti itu sepanjang jalan. Jeleknya, kadang aku turun lebih jauh dari tempat tujuan awal karena keasyikan. Jeleknya lagi, mungkin hal seperti ini membuat kesigapanmu berkurang karena dualisme kesadaran, alias jadi gampang kecopetan.

Tapi  merangkai cerita sendiri dari balik jendela kendaraan umum sebelum sampai di tempat tujuan akan membuatmu senantiasa memiliki pengalaman baru setiap hari. Tinggal pilih saja, mau menjadi apa dan mengamati siapa hari itu. Mengganti posisi menjadi seekor semut, misalnya. Itu juga menyenangkan, kok.

Maka aku tak heran ketika ada seorang wanita yang rela menukar jam keberangkatan demi duduk di samping jendela saat memesan kursi travel kala itu. Ia duduk di depanku kemudian. Sepertinya, ada sepenggal kisah yang setia menantinya dari suatu sudut jalan.







Sunday, 9 June 2013

Balada Hujan di Bulan Juni




Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapuskanya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu

--Sapardi Djoko Damono

***


“Sudah berapa lama kamu suka sama dia?”

“Entahlah. Kau coba hitung saja sendiri”

“Hahaha, aku kasihan sama kamu sebenarnya, Hujan. Kenapa mesti dia, sih? Toh masih banyak yang ngantri nungguin kamu selain dia.”

“Sok tahu kamu, Awan! Namanya perasaan, siapa yang bisa tahu, sih?”

"Iya juga…tapi kenapa kamu pilih Juni, di antara November, Desember, Januari…kan mereka cantik-cantik. Desember punya banyak lampu kelap-kelip tiap tanggal 25, Januari juga. Di hari pertama aja, langit dia buat terang meletup-letup,”

“Yah…semua juga tahu itu. Kalau kamu maksa, ya paling aku cuma bisa jawab, Juni itu istimewa tapi sederhana. Nggak banyak ornamen, nggak ada pesta. Tanggal merah aja absen dari daftar hari miliknya. Tapi coba kamu lihat, semua orang menunggu Juni. Keluarga bepergian di bulan Juni, karena nggak perlu aku buat repot sampai basah. Anak-anak yang capek sekolah bisa ke pantai di bulan Juni, karena cuaca cerah dan terang. Orangtua bisa bersantai di teras sambil ngopi siang-siang.”

“Alah, aku tahu kamu cemburu sama Matahari”

“Enggak kok! Justru aku bangga melihatnya begitu. Juni selalu ditandai orang untuk bersenang-senang. Biarin dia begitu. Dia memang selalu ingin menyenangkan semua orang. Cocok sama Matahari. Dia hangat, ceria, nggak kayak aku. Aku rela Juni dipsangkan sama Matahari.”

“Hah, klise kamu! Emang sih banyak orang yang bilang, cinta nggak harus memiliki. Something better left unsaid, bla bla bla…tapi apa kamu tahan? Coba lihat sekarang, lihat orang-orang yang kamu bela! Orang-orang yang demi mereka, kamu rela nahan-nahan perasaan. Mereka juga nggak peduli sama kamu, sama kita. Mereka semena-mena make yang namanya teknologi. Yang penting hidup mereka jadi gampang. Tapi kita-kita juga jadinya yang capek ngurusin mereka. Lihat sekarang, tinggal berapa teman kita yang masih rela kerepotan nemenin Bumi? Sisanya udah nggak sanggup! Kamu masih mau ngalah demi orang-orang itu?”

(Hujan terdiam)

“Lagian, emangnya kamu yakin Juni nggak capek senyam-senyum kegerahan di depan orang-orang? Emangnya kamu tahu, perasaan Juni sebenarnya gimana?? Nggak ada yang pernah tahu kalo nggak ada yang mau mulai!”

(Hujan masih terdiam)

(Awan menarik nafas panjang)


*** 


“Bu, ayo Bu, Ayah kan janji kalo aku libur kita ke Dufan!”

“Iya, sayang…Ibu juga pengen kok main sama Rani sama Kak Lia”

“Yaudah Buuuuuu ayo pergiii! Ayah mana??”

“Ayah belum pulang, Ran..katanya masih di kantor nungguin hujan. Di jalan kan banjir, kasian kalo Ayah sampai mogok mobilnya. Rani nggak kasian emangnya, sama Ayah?”

“Ah Ibu juga nggak kasian sama Rani! Ngeseliin!!”


***

“Masih hujan aja nih udah musim libur begini…cabut ajalah,yuk? Santai , lah. Nggak bakal kenapa-kenapa kalo yakin mah”

“Yeuu muncak jangan disamain kayak ngapelin cewek, bego! Dikira itu tanah nggak bakal licin nggak bakal longsor apa, hujan angin gini? Kalo ampe ada bencana, emangnya ada yang mau tanggung jawab?”

“Iya..ngeri juga sih ya…diundur aja lah, ya? Kita kemana kek sekarang mah, yang deket-deket aja..”


***

"Padahal harusnya Juni itu musim panas, ya, Yah? Malah hujan terus…jemuran kan jadi susah kering. Baju Mama bau lembab melulu."

"Iya, emang begini keadaannya sekarang, Mah. Musim udah nggak karu-karuan. Tapi toh, enak kan Mah, tiap hari adem terus?”

“Ih!”
***


“Hujan, ya. Juni sekarang hujan. Menurutmu kenapa?”

“Hmm…kamu masih ingat puisi hujan yang bijak? Judulnya apa?”

“Ingat. Hujan Bulan Juni. Kamu yang kasih linknya ke aku waktu itu"

“Iya. Hujan nggak mungkin turun di musim panas, tapi buktinya sekarang dia berani”

“Terus?”

“Itu tandanya, hari ini ada sesuatu yang sudah terlampau lama menahan rasa. Ada yang sudah terlalu sabar menyimpan rahasia. Ada yang sudah lelah untuk mengalah. Pada akhirnya, ia akan pecah, membuncah, bikin semua jadi ikut-ikutan basah. Tapi, dia nggak salah. Karena kearifan sudah menjadi nama tengahnya untuk sekian lama.”

“Lalu, sekarang kita harus gimana?”

“Yah, nikmati saja.”

Sederhana

Jadi gini ; Ini adalah tulisan pertama yang diunggah pada 2017. Dan, sekaligus juga ku berlakukan sebagai postingan penanda, bah...